Tolak Ukur Kepuasan Kerja Karyawan

Terdapat 2 hal yang mempengaruhi kepuasan kerja seseorang, yakni faktor ekstrinsik, yakni faktor yang ada di luar para pekerja, seperti adanya insentif yang dapat menambah motivasi para pekerja. Yang kedua adalah faktor intrinsic, yakni faktor psikologis yang dialami oleh para pekerja.

Biasanya besaran gaji atau upah yang diterima oleh pekerja menjadi suatu tolok ukur yang umum dilakukan oleh orang orang. Namun, tentu saja hal ini bukanlah satu satunya tolok ukur yang dapat menentukan puas atau tidaknya seseorang terhadap pekerjaan yang sedang digelutinya.

Lebih lanjut lagi, Muhammad menuturkan bahwa ada 2 hal yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang, yakni tingkat akses informasi dan hubungan antar pekerja.

Ada beberapa teori yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur tingkat kepuasan kerja yang dialami oleh pekerja. Teori teori tersebut adalah sebagai berikut :

Teori Ketidaksesuaian
John Locke, seorang ahli tata negara Inggris menyebutkan bahwa kita dapat mengukur tingkat kepuasan kerja seseorang berdasarkan selisih antara apa yang didapatkan dengan apa yang diinginkan oleh seorang pekerja.

Pekerja akan puas dengan pekerjaannya apabila tidak ada selisih antara apa yang diinginkan (atau minimal dibutuhkan) dengan apa yang didapat secara nata di perusahaan tempat ia bekerja. Namun, jika selisih antara 2 faktor itu membesar, maka ketidak puasan yang dialami oleh pekerja akan menjadi sangat tinggi. Namun pada kesimpulannya, John Locke menyatakan bahwa tidak ada cara terbaik yang dapat digunakan sebagai tolok ukur kepuaan kerja seseorang.

Teori Keadilan
Teori keadilan menyatakan bahwa tingkat kepuasan kerja yang dialami oleh pekerja dapat dilihat dari seberapa masuk akalnya insentif dan keuntungan yang diterima oleh pekerja dalam bandingannya dengan apa yang dikerjakan oleh pekerja tersebut.

Teori ini dikemukakan oleh Adam dan merupakan variasi dari teori perbandingan sosial. Teori ini melibatkan 4 komponen, yakni input, orang bandingan, hasil, serta tingkat keadilan/ketidakadilan.

Untuk kesimpulannya, teori ini menatakan bahwa kepuasan kerja dapat diperoleh jika ada perbandingan yang wajar antara input (seperti, tingkat pendidikan), dengan output (hasil yang diterima) dalam bandingannya dengan input dan output pekerja lain di suatu perusahaan yang berbeda.

Teori Dua Faktor
Teori dua faktor dikenalkan oleh Herzberg dalam penelitiannya terhadap 250 pekerja. Lebih lanjut lagi, Herzberg membagi 2 komponen yang menjadi tolok ukur tingkat kepuasan kerja, yakni sarisfier atau pemuas serta disatisfier atau hal yang menyebabkan pekerja menjadi tidak puas.

Faktor pemuas merupakan faktor faktor yang dapat dijadikan sebagai motivasi oleh seorang pekerja dalam melakukan pekerjaannya, sedangkan disatisfier adalah faktor faktor yang dapat memicu ketidakpuasan pekerja dalam melakukan pekerjaannya.

Hal itulah yang menyebabkan adanya faktor pemeliharaan (maintenance) yang berfungsi sebagai pemelihara agar pekerja dapat berada dalam kondisi yang puas.

kasih komen nya doooonk.. (:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: